Senin, 12 Desember 2011

Generasi Bangsa Radang Karakter

            Jika bangsa kita diprespektifkan menjadi seorang individu, maka dapat dikatakan individu itu sedang dilanda penyakit radang. Pada umumnya, orang yang sakit tentu sulit untuk melakukan rutinitas ataupun pekerjaan. Kalau dibiarkan radang akan menjadi penyakit yang berbahaya.
             Lalu, apakah bangsa Indonesia juga demikian? Menderita penyakit radang yang lambat laun menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit? Melihat berbagai fenomena miring yang diberitakan, sudah dapat dipastikan jawabannya. Ya, bangsa kita sakit, sakit sistemnya, tidak sehat kulturnya dan generasinya radang karakter. J. Galtung, ahli filsuf asal Jerman, menyatakan bahwa di era neo-kolonialisme ini, penjajahan sudah diacukan pada arah kultural, teknologi dan ilmu pengetahuan. Penjajahan seperti ini justru semakin kabur dan membahayakan. Pembunuhan karakter generasi bangsa secara perlahan mulai terjadi. Hal ini berjalan dan terus merongrong generasi bangsa tanpa disadari.
            Kekritisan generasi muda bangsa ini pun, kian lama kian terkikis. Nyaris tidak ada generasi Soekarno yang dikenal sangat pemberani dalam berorasi, hampir tidak ada sosok Soe Hoek Gie yang dipandang hebat dan tajam melalui tulisannya. Generasi bangsa kita telah dikuasai oleh gaya hidup hedonis, gaya hidup leha-leha dan gaya hidup mumpung masih muda.            
            Tidak hanya itu, nilai-nilai kesopanan yang dulu dijunjung tinggi dalam peradaban masyarakat kita, kinipun perlahan sirna. Belum lagi, maraknya kasus narkoba, menjamurnya gambar dan video porno di kalangan pemuda, seks bebas, dan hal lain yang menjadi indikator betapa besar peradangan yang menerpa generasi bangsa.
            Kemiskinan karakter yang melanda penerus bangsa ini, hendaknya memperoleh perhatian khusus dari pihak manapun. Mengingat, masa depan bangsa bergantung pada generasinya. Untuk itulah dalam puisinya yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia dengan gamblang Taufik Ismail menuangkan:
            
Di negeriku, budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam
            Kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di
            Tumpukan jerami selepas menuai padi.

Penggalan puisi di atas, ditulis oleh Taufik Ismail pada tahun 1998, namun jika kita refleksikan dengan keadaan generasi bangsa kita sekarang  ternyata masih sangat kontekstual. Bahkan tidak hanya tertuju pada kaum muda, kaum tua hingga pejabat-pun radang karakternya, miskin moralnya.
            Generasi kita sudah mengonsumsi racun di berbagai kalangan setiap harinya. Anak-anak, terus-menerus diperas untuk belajar, mereka terus dituntut untuk menjadi seorang cendekiawan yang buta lingkungan sosial dengan sistem pendidikan yang berlaku. Belum lagi adanya playstation yang mengurangi interaksi mereka dengan lingkungan dan kawan sebaya. Permainan secara tim seperti engklek, betengan, kasti, gobaksodor, dan lain-lain, sekarang ditinggalkan. Padahal permainan seperti itu dapat menstimulus dan melatih cara mereka bekerjasama dan pikul memikul saat ada masalah mengancam.
            Selain itu, tayangan sinetron juga dituding sebagai salah satu faktor perusak generasi bangsa. Bagaimana tidak, semua masyarakat terutama kalangan Ibu, remaja dan anak-anak, setiap hari dicekoki dengan tayangan tersebut. Usai Magrib hingga tengah malam, dengan setia mereka mengonsumsi racun tanpa terasa. Seperti reaksi vitsin pada makanan yang kita telan. Enak, melenakan namun mematikan bagi tubuh kita. Alhasil, anak usia SD dan remaja sudah kebanyakan tingkah. Ikut-ikutan gaya bicara, busana, dan berperilaku seperti si-artis.
            Hal lain dari kedua peristiwa yang telah disebutkan, dalam ranah teknologi informasi, generasi kita juga dihadapkan dengan fenomena kemunculan situs-situs jejaringan sosial yang bisa membawa dampak buruk, seperti facebook, twitter, friendster dan lain-lain. Jika situs-situs itu  dikonsumsi dan digunakan tidak semestinya maka dapat menjadi bomerang bagi kita. Facebook (FB) misalnya, jejaringan sosial yang satu ini sedang trend di berbagai kalangan. Dari anak-anak, remaja, pengusaha, pendidik, artis hingga pejabat bisa dipastikan sudah banyak yang memiliki akun FB. Dampak buruk dari FB direfleksikan oleh Awi Suryadi, salah seorang sutradara film, melalui film yang berjudul I Know What You Did On Facebook. Film tersebut menceritakan sebuah perseteruan dua orang sahabat karena FB dan beberapa fenomena perselingkuhan melalui jejaringan sosial yang mulai trend di tahun 2007-an ini.
            Beberapa kasus penyebab peradangan karakter di atas memang perlu ditangani secara khusus. Jika tidak maka dampak buruk yang akan melanda bangsa kita semakin sulit dihindari. Upaya menyeluruh di berbagai kalangan generasi hendaknya segera dilakukan. Salah satu upaya mengatasi peradangan tersebut adalah dengan menerapkan pendidikan karakter bagi generasi bangsa.
            Beberapa waktu ini pendidikan karakter memang telah banyak diperbincangkan. Pendidikan karakter dinilai mampu untuk menjadi solusi yang tepat bagi kasus-kasus moralitas yang mewabah bak jamur pada musim penghujan, di negeri kita. Abdullah Munir, salah seorang  praktisi pendidikan, menyatakan bahwa karakter seseorang ibarat pisau bermata dua. Sisi pertama bermata positif dan sisi kedua bermata negatif. Pendidikan karakter berfungsi untuk menekan seminimal mungkin sisi negatif dari mata pisau itu dan memaksimalkan sisi positifnya. Dari pernyataan tersebut, dapat dikatakan pendidikan karakter merupakan upaya untuk mendidik dan mengarahkan karakter seseorang. Hal ini juga didukung oleh Pandangan behavioristik yang diungkapkan oleh John B. Waston, seorang ahli psikologi Amerika yang mengatakan bahwa tingkah laku seseorang bisa dibentuk, diramalkan bahkan dikendalikan.
            Pendidikan karakter itu sendiri hendaknya diterapkan dalam berbagai lingkungan. Pemerintah-pun tak perlu ragu lagi untuk segera menyelipkan pendidikan karakter sebagai salah satu misi dalam sistem pendidikan negara kita. Mengingat sekolah merupakan lingkungan formal yang tepat untuk setidaknya memaksa anak mengerti anggah-ungguh. Selain di lingkungan sekolah, pendidikan karakter juga penting diterapkan dalam keluarga. Hal ini menjadi tanggung jawab besar bagi orang tua untuk senantiasa mendidik karakter anak mereka dengan penuh kasih sayang. Bukan dengan semata-mata memarahi jika mereka salah, terlebih memukul mereka. Berilah pengertian dan belajarlah untuk lebih banyak memahami karakter anak. Mengingat banyaknya situs dan buku yang membahas pendidikan karakter, alangkah baiknya orang tua juga mempelajari. Setidaknya orang tua bisa tahu pentingnya pendidikan karakter.
Selain upaya di atas, sebagai seorang individu hendaknya kita juga memotivasi diri kita secara personal untuk mengaktualisasikan sebuah sikap yang baik. Membiasakan diri kita sendiri untuk terus berupaya menjadi individu yang baik. Mengenyahkan semua kesulitan yang muncul dari dalam diri dan berjuang supaya menjadi individu yang berbudipekerti luhur. Memaksimalkan motivasi yang ada untuk berkembang ke arah positif. Berusaha bersikap jujur dan tidak anarkis.
Dengan memulai perbaikan dari diri sendiri, perubahan tentunya akan semakin mudah dijalankan. Kita dapat mengajak diri kita sendiri untuk berkembang ke arah positif. Tidak terkungkung dalam idealisme yang individualis. Mencoba bebas untuk berkarya dan bereksistensi. Berlomba dalam meraih prestasi serta mengharumkan nama bangsa. Menghindari tindakan-tindakan yang bersimpangan dengan ajaran moral. Memanfaatkan kebebasan dalam batas kewajaran.
Saat ini bangsa kita bisa dibilang mengalami krisis idiologi. Idiologi Pancasila yang selama ini menjadi jati diri bangsa kini mengalami keterpurukan. Inilah yang menjadi tugas dari generasi. Sudah sepantasnya sebagai ujung tombak pembangunan, generasi bangsa turut serta memberi sumbangsih pada tanah airnya. Sebetulnya untuk memperbaiki peradangan karakter di negeri kita tidaklah sulit. Dengan memperbaiki sistem dan kultur generasinya, hal itu sudah menyokong  upaya pembenahan berbagai fenomena miring tentang negeri kita.
            Beberapa solusi kecil di atas jika diterapkan sekiranya dapat membantu perbaikan generasi bangsa kita. Mengingat hal besar selalu dimulai dari hal yang kecil. Percayalah bahwa berusaha menjadi lebih baik itu jauh lebih mulia daripada bertahan dengan keadaan yang apa adanya. Karena pada hakikatnya manusia diwajibkan untuk selalu berusaha dan berdoa. Nasib bangsa ada pada generasinya.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar